Duhai lemari...engkau menjadi saksi
Betapa aku menghabiskan hampir
Sepertiga hidupku untuk menyesakkanmu
Kuhiasi dirimu dengan bordir dan renda yang sangat menawan
Kupenuhi rak-rakmu dengan tumpukan-tumpukan yang melimpah
Kujejali leher gantunganmu dengan warna-warna yang aduhai
Warna-warna itu sangat memicuku untuk menjadi
seorang pelukis profesional...
Oh...warna merah akan bagus dan serasi dikulitku...
Tentu saja dengan bordir yang sesuai
Setelah warna merah sudah ada...tapi warna biru
belum punya ya?
Maka kuupayakan seluruh konsentrasiku, uangku,
waktuku dan tenagaku...
Untuk mencari warna biru yang sesuai dengan keinginanku...
Kususuri Mayestik dengan khusyuk dan teliti
Untuk memcari warna biru yang kuinginkan
Di dalam kanvas lemariku
Betapa aku menghabiskan hampir
Sepertiga hidupku untuk menyesakkanmu
Kuhiasi dirimu dengan bordir dan renda yang sangat menawan
Kupenuhi rak-rakmu dengan tumpukan-tumpukan yang melimpah
Kujejali leher gantunganmu dengan warna-warna yang aduhai
Warna-warna itu sangat memicuku untuk menjadi
seorang pelukis profesional...
Oh...warna merah akan bagus dan serasi dikulitku...
Tentu saja dengan bordir yang sesuai
Setelah warna merah sudah ada...tapi warna biru
belum punya ya?
Maka kuupayakan seluruh konsentrasiku, uangku,
waktuku dan tenagaku...
Untuk mencari warna biru yang sesuai dengan keinginanku...
Kususuri Mayestik dengan khusyuk dan teliti
Untuk memcari warna biru yang kuinginkan
Di dalam kanvas lemariku
Begitu terus aku melengkapi lukisanku dengan
Warna hijau
Warna jingga
Warna lila
Warna kuning
Aku tebarkan payet ke seluruh permukaannya
Hingga tampak berkilau menakjubkan...
sangat menakjubkan...
Lemari aku tahu...,
Engkau selalu tersenyum melihatku ketika aku
Memantas-mantas diriku di cerminmu
Dan engkau hampir muntah setiap aku menambah
koleksiku dan menjejalkannya ke dalam perutmu
Yang sudah membuncit
Engkau berduka ketika ada bencana kebakaran,
Kebanjiran atau kemiskinan, yang aku keluarkan
Dari perutmu hanya sedikit
menangis ketika berulangkali aku
memasukkan kembali isimu yang sudah aku
keluarkan dengan dalih...
"Yang ini tidak cocok diberikan kepada orang miskin"
"Yang ini punya kenangan tersendiri"
"Yang ini belinya di luar negeri"
"Yang itu masih bagus, besok-besok masih bisa dipakai lagi..."
Padahal sudah bulanan bahkan tahunan waktu, aku
memakainya
dan engkau tahu itu, itu yang membuatmu
menangis
Itu yang membuatmu berduka...
Di sela tangisanmu engkau ingin bertanya untuk
mengingatkanku
"Hai... mana busanamu untuk akhir hayat?
yang sangat sederhana...hanya kain putih
5 meter tidak perlu bordir, tidak perlu renda,
bahkan engkau tidak perlu mencari payet yang
sesuai untuknya..."
Mana busana akhir hayatmu?...mana?
itu pertanyaan yang tak pernah terucap olehmu
Padahal pertanyaan itu aku perlukan untuk
mengendalikan kesia-siaan penghamburan uangku
Mana busana akhir hayatmu?...mana?
Itu pertanyaan yang tidak sempat kau lontarkan
Padahal pertanyaan itu aku perlukan
Agar biaya aku lokasikan untuk amal-amal sholeh
Yang dapat menolongku nantinya
Oh lemariku...ucapkan pertanyaan itu...
Oh lemariku...lontarkan pertanyaan itu...
Agar aku tidak terjebak
Agar aku tidak merugi
Agar aku dapat tertolong
Ucapkan pertanyaan itu...lontarkan pertanyaan
itu...
-Ratih Sanggarwaty-
Warna hijau
Warna jingga
Warna lila
Warna kuning
Aku tebarkan payet ke seluruh permukaannya
Hingga tampak berkilau menakjubkan...
sangat menakjubkan...
Lemari aku tahu...,
Engkau selalu tersenyum melihatku ketika aku
Memantas-mantas diriku di cerminmu
Dan engkau hampir muntah setiap aku menambah
koleksiku dan menjejalkannya ke dalam perutmu
Yang sudah membuncit
Engkau berduka ketika ada bencana kebakaran,
Kebanjiran atau kemiskinan, yang aku keluarkan
Dari perutmu hanya sedikit
menangis ketika berulangkali aku
memasukkan kembali isimu yang sudah aku
keluarkan dengan dalih...
"Yang ini tidak cocok diberikan kepada orang miskin"
"Yang ini punya kenangan tersendiri"
"Yang ini belinya di luar negeri"
"Yang itu masih bagus, besok-besok masih bisa dipakai lagi..."
Padahal sudah bulanan bahkan tahunan waktu, aku
memakainya
dan engkau tahu itu, itu yang membuatmu
menangis
Itu yang membuatmu berduka...
Di sela tangisanmu engkau ingin bertanya untuk
mengingatkanku
"Hai... mana busanamu untuk akhir hayat?
yang sangat sederhana...hanya kain putih
5 meter tidak perlu bordir, tidak perlu renda,
bahkan engkau tidak perlu mencari payet yang
sesuai untuknya..."
Mana busana akhir hayatmu?...mana?
itu pertanyaan yang tak pernah terucap olehmu
Padahal pertanyaan itu aku perlukan untuk
mengendalikan kesia-siaan penghamburan uangku
Mana busana akhir hayatmu?...mana?
Itu pertanyaan yang tidak sempat kau lontarkan
Padahal pertanyaan itu aku perlukan
Agar biaya aku lokasikan untuk amal-amal sholeh
Yang dapat menolongku nantinya
Oh lemariku...ucapkan pertanyaan itu...
Oh lemariku...lontarkan pertanyaan itu...
Agar aku tidak terjebak
Agar aku tidak merugi
Agar aku dapat tertolong
Ucapkan pertanyaan itu...lontarkan pertanyaan
itu...
-Ratih Sanggarwaty-
Komentar
Posting Komentar